Memuliakannya, Kunci Keberkahan Hidup..

memuliakan-kedua-orang-tua

Seorang wanita ini selalu memperhatikan orang lain, ia kadang tak peduli dengan keadaan dirinya. Bahkan ketika ia merasakan hatinya sedang kesakitan dan pikirannya sedang rumit, ia masih tetap bisa tersenyum. Siapakah wanita tersebut ?

Semua orang pasti telah memanggilnya, tetapi tidak setiap orang memuliakan wanita ini, ia adalah Ibu.

Ibu.. untuk ia yang telah mengandung selama 9 Bulan lamanya,

Ibu.. untuk ia berjuang melahirkan dengan kesakitan diantara hidup dan matinya,

Ibu.. untuk setiap tetes air susu untuk anaknya.

Pantaskah ketika dewasa sebagai anak yang memanggilnya Ibu lantas tak berbakti?

Kasih sayang dari seorang ibu hanya bisa dirasakan sebagai harga mati ketika seseorang menjadi seorang Ibu.

Ibu.. Bukan hanya yang lemah ketika mengandungnya, bukan juga ketika begitu sakit ketika melahirkan ataupun beratnya ketika menyusui ditengah malam.

Tetapi beban yang lebih berat daripada ketiga hal itu, sebagai Ibu yang diamanahkan oleh Allah adalah mendidik anak-anaknya.

Tentu peranan mendidik anak, bukan hanya dibebankan kepada Ibu saja, tetapi juga Ayah sebagai pemimpin keluarga sangat berperan penting untuk hal mendidik.

Setiap pasangan yang telah menikah, pasti berharap suatu hari ia akan menjadi Ayah dan Ibu untuk anaknya, terlebih seorang wanita, yang ingin menjadi seorang Ibu yang mengandung,melahirkan dan juga menyusui. Namun tidak semua wanita diberikan kesempatan untuk ketiga hal tersebut. Adapun yang wanita yang diberikan kesempatan namun tidak bersyukur, adapun yang berharap, namun belum juga diamanahkan.

Tetapi disinilah keAdilan Allah, ketika ada orangtua yang menelantarkan anaknya, anak tersebut bisa diasuh oleh orangtua lain yang belum juga memiliki keturunan (Adopsi/Orangtua asuh), Karena setiap anak yang lahir adalah amanah Allah, dan setiap anak berhak mendapat didikan yang baik.

Bahkan dalam 3 perkara yang disebutkan dalam amalan yang terus menerus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, salah satunya adalah doa anak yang shalih, tidak disebutkan apakah ia anak kandung atau bukan.

Maka mendidik setiap anak bisa dikatakan adalah kewajiban.

Ketika mendidik anak, akan banyak hal yang menguji kesabaran, dari mulai bayi terdengar tangisan rewel ketika ia haus susu ketika tengah malam, tumbuh besar dengan tingkah ketidaktahuannya yang kadang membuat jengkel, dan ketika mulai dewasa ada saja marahnya ketika keinginan dirinya yang belum dipenuhi. Namun kekesalan yang dirasakan akan selalu dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan kesenangan yang akan mereka rindukan ketika anaknya dewasa.

 

Dan apakah yang seharusnya kita berikan untuk Orang tua yang telah mendidik kita? Mengasuh, Mengasah, Mengasihi anaknya hingga dewasa.

Apakah kita masih enggan memuliakan Ibu dan Ayah yang sudah semakin menua, tangan dan kakinya yang mulai lemah, wajahnya yang mulai keriput, dan ingatannya yang mulai pelupa.

Keringat Ayah yang mencari nafkah, tidak peduli akan panasnya terik matahari, pulang dikegelapan, dan terus menjemput rezeki untuk keluarga.

Ayah yang lelah seharian bekerja, tetapi tetap bersemangat ketika bermain dengan anaknya,

Ayah yang mengenalkan anaknya untuk menjadi seseorang yang berani dan hebat,

Ayah sebagai pemimpin yang bijaksana dalam memimpin keluarga.

 

MEMULIAKAN ORANG TUA Adalah KEBERKAHAN, Dan BERBAKTI kepadanya adalah KEWAJIBAN.

Bahkan ada juga dalam sebuah kutipan yang mengatakan “Rezekimu tergantung bagaimana engkau memuliakan orangtuamu, bila engkau menganggap mereka Raja, maka rezekimu akan seperti rezeki Raja. Namun jika engkau menganggap mereka seperti Pembantu, Rezekimu seperti Pembantu”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *