Berani BerDo’a, Berani Menerima

Berani Berdo’a, Berani Menerima!

Banyak diantara kita yang kadang terlalu muluk untuk meminta kepada Allah. Saya sendiri masih merasakan hal ini, semoga bacaan ini sebagai bahan pengingat untuk diri sendiri. Sebagaimana do’a yang sering kita panjatkan, Katakan saja ketika kita berdoa memohon ingin menjadi orang kaya, namun sikap kita tidak sama sekali mau menerima bagaimana membangun kekayaan itu.
Contohnya, untuk mengubah diri menjadi orang kaya yang sukses, berlimpah uang, hidup enak, pastinya tanpa ataupun kita sadari tidak bisa berlangsung satu malam saja, perlu kerja cerdas dan semangat keras untuk mencapainya (Kecuali jika benar-benar ada Doraemon di dunia ini, tinggal bilang aja doraemon aku mau keliling dunia, tolong keluarkan pintu kemana saja)
Saya sendiri mulai berpikir, bagaimana upaya mereka yang telah menjadi kaya lebih dulu jika tidak disertai dengan usaha dan upaya yang sedemikian militan mencapai keinginannya.
Sebagai renungan diri, ketika kita berdoa pada Allah untuk menjadi orang kaya, tapi kita masih saja berat untuk bangun tidur di dini hari, bahkan untuk bangun subuh untuk solat saja terkadang masih memilih melanjutkan tidur, padahal jika kita lebih cermat sudah jelas dalam lantunan azan subuh “lebih baik solat daripada tidur”, artinya apa yang dilakukan orang yang lebih dulu beraktifitas akan lebih maju kedepan karena mereka lebih siap menyambut hari mereka untuk mewujudkan keinginannya.
Teguran untuk diri ini “Gimana mau jadi orang kayanya? Kalau prosesnya aja belum siap dijalanin”.
Dan terkadang, jika doa yang belum terkabul, ada saja celah menyalahkan Allah, Padahal Allah sudah memberi jalan, petunjuk, contoh, bagaimana proses untuk menjadi kaya dengan kisah nyata orang-orang kaya yang berbagi pengalaman bagaimana mereka bisa kaya dengan upaya, usaha, bukan menunggu do’a aja.
Ada juga do’a memohon jodoh, ada beragam alasan, biar cepet nikah, malu sudah nambah umur belum juga nikah, calon sudah ada, tapi belum juga segera menikah. Sebenarnya bukan usaha pendekatan calonnya saja, tapi juga lebih bagaimana memantaskan diri.
Coba kita ajak diri ini bermuhasabah, bagaimana persiapan nikahnya?
Sudah benar-benar siapkah secara mental? hidup berumah-tangga itu bukan seperti main rumah-rumahan.
Dan secara finansial? Bukankah menikah itu butuh banyak dana, bukan hanya satu hari dihari pernikahannya saja, tapi yang lebih harus dipikirkan yakni hari setelah menikah, menjalani hari-hari berumah-tangga.
Untuk doa minta jodoh pun, tidak perlu aneh-aneh dengan minta jodoh yang “enggak” pas, maksudnya kalau mau jodoh yang sempurna, coba kita bercermin, diri kita seperti apa?
Jadi coba diteliti lagi kalau berdoa, kalau belum siap menerima proses untuk terkabulnya doa, lebih baik berdoa sesuai yang sekiranya diri ini menyanggupi. Berprasangka baiklah duhai hati, Allah itu maha mengetahui setiap hambanya, maka ada doa yang segera dikabulkan ada juga yang ditunda karena hambanya belum bisa diamanahkan.
Lebih baik berdoa, untuk mohon dipantaskan dulu dirinya untuk menjadi hamba Allah yang amanah.
Kalau mau jadi kaya, ada baiknya perbanyak sedekahnya. Dan coba tanya pada diri sendiri “Kalau sedekahnya dikit kira-kira pantas tidak untuk jadi orang kaya?”
Analoginya, orang yang mau beli bubur untuk anak sd dan untuk anak bayi pasti beda porsi, kalau buat anak sd sudah pasti mangkoknya yang lebih besar, supaya ketampung sesuai porsinya. Begitu juga kalau mau jadi kaya, baiknya kita kasih pantaskan lagi sedekahnya.
Kalau Allahnya udah percaya dengan hambanya yang bisa mengemban amanahnya, masa Allah kurangin titipannya? Pasti.. pasti Allah tambah titipannya.
Dan soal minta jodoh, baiknya minta jodoh itu yang Allah ridho, bukan cuma yang kita suka. Kalau Allah ridho berkah rumah tangganya. Menikahnya pun bukan karena yang lain, karena Allah aja. menikah itu ibadah, tujuannya sakinah mawadah warahmah.

Setiap doa pasti terkabul, disaat yang tepat menurut Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *